Djarum Tampik Tudingan Eksploitasi Dalam Beasiswa Bulutangkis

News | Selasa, 19 Februari 2019

Djarum Foundation membantah tudingan terkait eksploitasi yang mereka lakukan dalam program Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis. Menurut Djarum, audisi ini murni sebagai ajang pencarian bakat bibit-bibit atlet bulutangkis usia muda yang disiapkan untuk menjadi penerus Kevin Sanjaya Sukamuljo dkk.

Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Yayasan Lentera Anak (YLA) menuding Djarum telah melibatkan anak-anak berusia enam tahun hingga 15 tahun untuk mempromosikan produk rokok. Pasalnya, anak-anak yang menjadi peserta audisi ini diwajibkan mengenakan kaus dengan logo Djarum. KPAI menganggap Djarum telah menjadikan tubuh anak sebagai media untuk mempromosikan rokok.

Program Manajer Komunikasi Bakti Olahraga Djarum Foundation, Budi Darmawan membantah keras tudingan tersebut. Menurutnya, audisi yang telah berlangsung sejak 2006 di Kudus, Jawa Tengah itu adalah bagian dari program pengembangan dari klub bulu tangkis PB Djarum.

“PB Djarum sudah berdiri sejak 1969 ketika sejumlah karyawan yang gemar berolahraga lantas membentuk klub bulu tangkis di Kudus. Apa yang kami lakukan itu murni untuk mengisi skuat klub bulu tangkis Djarum,” ujar Budi.

Sekadar informasi, PB Djarum sendiri adalah salah satu klub pembinaan bulutangkis tertua di Indonesia. Nama-nama pebulutangkis legendaris sekelas Tan Joe Hok, Liem Swie King dan Haryanto Arbi adalah jebolan dari klub tersebut. Juara dunia ganda putra 2013 dan 2015, Mohammad Ahsan juga merupakan hasil dari pembinaan PB Djarum.

badmintonindonesia.org
Dua pebulutangkis nasional, Kevin Sanjaya Sukamuljo (kiri) dan Mohammad Ahsan merupakan pemain jebolan PB Djarum.

Selain itu, ada pula peraih medali emas Olimpiade Rio 2016, Tontowi Ahmad yang juga merupakan pemain PB Djarum. Pebulutangkis Djarum lainnya yang sedang naik daun adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo, peraih medali emas ganda putra Asian Games 2018 yang saat ini menduduki peringkat 1 dunia BWF.

“Pembinaan atlet-atlet bulu tangkis yang membutuhkan biaya dan waktu itu lantas menggugah klub bulu tangkis Djarum untuk melakukan pembinaan atlet secara serius dan melahirkan atlet-atlet berprestasi di dunia. Pada 2014, kami mulai mengembangkan Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis ke berbagai kota di luar Kudus,” kata Budi menjelaskan.

Mengenai penggunaan kaus berlogo Djarum oleh para peserta audisi, Budi meminta KPAI untuk lebih teliti lagi. “KPAI tidak menyebutkan lengkap apa yang tertulis di kaus. Di kaus itu tulisannya Djarum Badminton Club. Kami menggunakan kaos sebagai identitas. Kegiatan Audisi Umum Bulutangkis itu secara tegas tidak menjual atau kampanye rokok karena tidak terkait merek rokok,” ujarnya.

Program Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis menjaring para calon atlet berbakat yang berusia 11, 13, dan 15 tahun. Nantinya, mereka akan diberi beasiswa oleh Djarum Foundation untuk kemudian dididik secara intensif. Dalam 10 tahun jumlah peserta audisi naik hingga lebih 13 kali lipat, yaitu 445 orang pada 2008 menjadi 5.957 orang pada 2018. Total selama 10 tahun 23.683 anak terlibat.

(Via Antaranews)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *