Rapor Keuangan Masih Merah, Bentoel Susun Strategi Ekspor

News | Minggu, 7 Juli 2019

Emiten rokok PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA) optimistis dapat memperbaiki kinerja fundamental dengan merestrukturasi perusahaan dan mengoptimalkan produksi. Salah satunya dengan mengoptimalkan pabrik pengolahan tembakau berorientasi ekspor, yang eksklusif kepada anak usaha British American Tobacco (BAT).

Sebelumnya diketahui kinerja laporan keuangan perseroan sempat makin bergerak jauh di zona merah dengan angka kerugian pada 2018 yang membesar 26,74 persen menjadi Rp 608,46 miliar. Sementara sebelumnya kerugian perusahaan mencapai Rp 480,06 miliar. Pada kuartal I tahun 2019 perseroan membukukan rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 83,30 miliar.

SMD Production Manager Bentoel Group, Adhe Sona Wijanarko mengatakan bahwa orientasi pabrik pembuat rokok adalah pasar ekspor. Kawasan tempat pabrik berdiri ialah kawasan berikat. Adhe berujar 80 persen dari produksi rokok perseroan dialokasikan untuk pasar global, sementara selebihnya ditujukan untuk pasar domestik.

“Pabrik perseroan dapat memproduksi puluhan miliar batang per tahun. Dengan kata lain, hampir seluruh produk olahan tembakau yang masuk dan keluar dari kawasan tersebut berkaitan dengan kegiatan ekspor-impor,” ujar Adhe.

Sementara itu, Head of Government Affair RMBA, Iwan Kendrawaran Kaldjat mengatakan Bentoel juga akan melakukan restrukturisasi perusahaan. Istilah konsultasi manajemen yang sebelumnya beredar merupakan bahasa legal dari holding company sebagai upaya efisiensi koordinasi.

“Pada dasarnya, Bentoel bukan membuat bisnis baru, melainkan mengonsolidasikan beberapa anak perusahaannya. Perusahaan holding bertugas untuk mengkoordinasi, sedangkan anak usaha akan melaksanakan proses produksi dan distribusi,” kata Iwan.

TEMPO/Abdi Purmono
Aktivitas pabrik Grup Bentoel di Desa Karanglo, Singosari, Malang, Jawa Timur.

Melalui upaya restrukturisasi ini, diharapkan kegiatan usaha RMBA akan lebih jelas, sederhana, dan efisien. Upaya merampingkan perusahaan adalah salah satu cara untuk memperbaiki kinerja fundamentalnya. Sebelumnya dari 16 perusahaan yang ada dikonsolidasikan menjadi empat perusahaan. Nantinya efisiensi perusahaan akan mendorong nilai ekspor, yang diharpakan meningkat hingga USD1,8-1,9 juta.

Adapun upaya lain yang dilakukan RMBA adalah investasi pabrik dan teknologi Dried Ice Expanded Tobacco (DIET) yang bertaraf internasional di Malang. Dalam pabrik tersebut, tembakau yang diserap perseroan dari pertani Madura dan Lombok didinginkan di bawah titik beku lalu dipanaskan. Inovasi ini menghasilkan tembakau dengan luas permukaan yang lebih luas dari tembakau biasa.

Bentoel, perusahaan rokok nasional asal Malang yang didirikan tahun 1930 itu, kini telah menjadi bagian dari British American Tobacco (BAT) dimana perusahaan Big Tobacco itu kini memiliki 92,48 persen kepemilikan RMBA. Adapun 7,29 persen kepemilikan dimiliki UBS Ag London, sedangkan sisanya dimiliki publik.

Pada tahun 2013 dan 2015, produsen dari Dunhill Filter, Dunhill Mild, Lucky Strike Bold dan Lucky Strike Mild itu mendapat suntikan modal dari BAT sebesar Rp13,2 triliun untuk mendirikan pabrik DIET. Saat ini utilisasi pabrik DIET sudah mencapai 92 persen dan produksi tembakau DIET mayoritas ekspor ke 16 negara di kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah yang berafiliasi BAT.

Nilai ekspornya mencapai lebih dari Rp 4 triliun. Kepala Operasional DIET Andi Wongso menyatakan secara keseluruhan Bentoel Group memiliki 7 pabrik di Malang, salah satunya adalah Bentoel Internasional Investama (BINI) dan DIET.

“Dari pabrik BINI, Bentoel Group telah melakukan ekspor ke 19 negara yang salah satu negara tujuannya adalah Jepang dan Korea,” jelasnya. Satu tahun pabrik BINI dapat memproduksi lebih dari puluhan miliar batang rokok. Ke depannya RMBA optimistis dapat menjadi pusat ekspor (export hub) Bentoel Group.

(Via Bisnis.com)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *