Pandemi COVID-19 Hantam Industri Vaporizer, Jumlah Pengguna Turun

By Vapemagz | News | Jumat, 11 September 2020

Industri vaporizer mengalami hantaman setelah terjadinya perubahan perilaku konsumen akibat pandemi COVID-19. Perubahan perilaku tersebut membuat produksi cairan vaporizer sekitar 6 bulan terakhir merosot dan jumlah pengguna berkurang drastis.

Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) mendata serapan cairan vaporizer di pasar lokal anjlok sekitar 50-60 persen secara tahunan pada Agustus 2020. Adapun, jumlah pengguna turun drastis dari lebih dari 2,5 juta orang menjadi sekitar 1,8 juta-1,9 juta pada medio kuartal III/2020.

“Berkurangnya pendapatan mayoritas masyarakat menuntut mereka hidup lebih hemat. Tempat pembelian e-liquid berpindah dari pusat perbelanjaan ke toko di perumahan,” kata Garindra.

Alhasil, serapan e-liquid di toko-toko kecil meningkat. Sementara omzet distributor besar justru terpukul. Walau begitu karena kebanyakan omzet distributor yang sangat besar, kenaikan penjualan di toko-toko kecil tidak bisa menutupi penurunan serapan e-liquid di toko-toko besar.

Berkurangnya pendapatan konsumen membuat pergeseran pembelian ukuran cairan vaporizer. Garindra mendata saat ini konsumen cairan dengan nikotin bebas meningkatkan pembelian botol berukuran 100 mililiter.

Menurut Garindra konsumen saat ini lebih memilih mengeluarkan kocek lebih tinggi sekitar 30 persen dari harga botol berukuran 60 mililiter, tapi mendapatkan volume hampir dua kali lipat. Pergeseran penggunaan tersebut membuat rentang pembelian cairan vaporizer lebih lama yang berdampak pada penurunan produksi cairan vape.

Thomas Rizal/Vapemagz Indonesia
Garindra Kartasasmita, Sekretaris Umum APVI.

Garindra menilai rendahnya pemasukan membuat konsumen terpaksa berhenti mengonsumsi produk vaporizer. Garindra meramalkan pabrikan akan mendistribusikan cairan vaporizer dengan nikotin bebas berukuran 30 mililiter. Menurutnya, hal tersebut dilakuan untuk menyesuaikan dengan daya beli konsumen saat ini.

“Hal yang sama dirasakan pabrikan-pabrikan rokok besar. Rata-rata konsumennya pindah ke rokok yang lebih murah.”

Selain berkurangnya pendapatan konsumen, sebagian konsumen juga kehilangan mata pencahariannya dan terpaksa pulang ke kampung halaman. Garindra menilai fenomena tersebut memicu derasnya pertumbuhan produsen maupun peritel di luar kota-kota besar. Dengan kata lain, pusat pertumbuhan industri cairan vape saat ini tidak lagi terpusat di Ibu Kota.

Namun demikian, Garindra menyatakan cukai yang dibeli industri vaporizer maupun produk tembakau yang dipanaskan hampir melampaui realisasi pembelian cukai 2019 per April 2020. Industri vaporizer maupun produk pemanasan tembakau telah membeli pita cukai sekitar Rp390 miliar.

Adapun, pembelian pita cukai terbanyak dilakukan oleh industri pemanasan tembakau seperti IQOS dan iSwitch dan pabrikan vaporizer dengan produk sistem tertutup seperti JUUL, NCIG, dan RELX. Kedua industri ini membeli pita cukai sekitar Rp490 miliar sepanjang 2019.

Di sisi lain, Garindra menyatakan pihaknya belum akan merevisi target pertumbuhan produksi pada akhir 2020. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh tidak pastinya dampak pandemi COVID-19 terhadap industri cairan vaporizer.

Sebelumnya, Garindra mengatakan pabrikan cairan vape tercatat telah memproduksi 40 juta botol atau naik sekitar 100 persen dari realisasi akhir 2018 yakni sekitar 20 juta botol. Garindra menargetkan produksi cairan vape bisa naik menjadi 50 juta botol dengan pembayaran cukai lebih dari Rp1 triliun.

“Kami yakni produksi botol tahun ini akan lebih dari target, tapi untuk sementara target cukai kami sebesar itu. Pasar tidak jenuh, justru sangat berkembang baik,” katanya.

Garindra menyampaikan secara komposisi cairan vape tersebut tetap didominasi oleh cairan basis bebas (free base) yakni sekitar 60 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan tengah 2019 yakni di level 50 persen.

(APVI)

Comments

Comments are closed.