Kemenko PMK Akan Rampungkan Larangan Vape Akhir 2020

By Vapemagz | News | Senin, 11 November 2019

Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenko PMK) rencananya akan merampungkan regulasi mengenai rokok elektrik atau vape akhir 2020 mendatang. Regulasi tersebut disebut-sebut mencakup pelarangan rokok elektrik yang akan tertuang dalam muatan revisi PP No 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

“Tidak harus masuk dalam revisi PP No.109/2012. Jadi bisa saja dalam bentuk peraturan presiden atau peraturan menteri, tergantung substansinya,” kata Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, Agus Suprapto, Sabtu (9/11/2019).

Larangan rokok elektrik ini menjadi ramai diperbincangkan sejak pekan lalu, setelah Kemenko PMK menggelar rapat di Jakarta, Senin (4/11/2019), untuk mengubah PP 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Salah satu perubahan yang dibahas adalah mengenai pelarangan rokok elektrik.

Terkait perampungan regulasi ini, Agus mengatakan akan melibatkan banyak sektor. Hal ini yang membuat regulasi ini kemungkinan baru akan selesai pada akhir tahun 2020. Perkembangan terkini, sedang dibahas definisi rokok elektriknya.

Kemenko PMK
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, Agus Suprapto.

Agus menyatakan, pelarangan rokok elektrik ini diusulkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Latar belakang diusulkannya regulasi mengenai rokok elektrik ini sebagai solusi menjawab masalah meningkatnya penyakit tidak menular dan konsumsi merokok pada anak.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, jumlah pengguna vape di Indonesia justru didominasi oleh pelajar dan anak remaja. Dilihat dari proporsi jenis rokok yang dihisap penduduk berusia 10 tahun ke atas, kelompok umur 10-14 dan 15-19 menjadi kelompok yang paling banyak menggunakan rokok elektrik, yakni sebanyak 10,6 persen dan 10,5 persen.

Malah jika dilihat dari kategori pekerjaan, maka pengguna rokok elektrik yang masih sekolah yakni sebesar 12,1 persen, lebih banyak ketimbang para pegawai swasta (4,6 persen) atau wiraswasta (2 persen). Agus menyatakan maraknya penggunaan rokok elektrik terutama pada anak usia 10 tahun-18 tahun meningkat signifikan yakni 1,2 persen menjadi 10,9 persen dalam dua tahun terakhir.

Selain itu, banyak pula terjadi penyalahgunaan likuid atau essens rokok elektrik bercampur Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (NAPZA). Adapun poin selanjutnya adalah secara spesifik pengaturan yang masih dibahas lebih lanjut. Salah satunya aturan mengenai larangan adanya bahan tambahan pada produk tembakau, yakni perasa yang membuat anak mencoba merokok serta luas gambar larangan merokok dalam kemasan rokok yang akan ditambah menjadi 90 persen dari yang tadinya 40 persen.

(Via Kontan)

Comments

Comments are closed.