Kasus COVID-19 Kembali Meningkat, Wilayah di Spanyol Larang Penggunaan Tembakau

News | Sabtu, 15 Agustus 2020

Wilayah Galicia di Spanyol telah secara efektif melarang penggunaan tembakau seperti merokok di tempat umum karena khawatir hal itu meningkatkan risiko penularan COVID-19. Galicia juga telah mengeluarkan larangan merokok di jalan dan di tempat umum, seperti restoran dan bar, jika social distancing tidak memungkinkan.

Wilayah barat laut tersebut menjadi yang pertama memperkenalkan larangan tersebut, diikuti Kepulauan Canary yang mengumumkan tindakan serupa dan melarang merokok di luar ruangan. Larangan ini mulai berlaku pada hari Jumat (14/8/2020) bersamaan dengan perintah lain yang mewajibkan masker wajah di ruang publik.

Pejabat di daerah lain termasuk Madrid, Andalusia dan Valencia juga dilaporkan mempertimbangkan untuk menerapkan larangan merokok. Langkah itu diambil ketika Spanyol kembali menghadapi tingkat infeksi terburuk di Eropa Barat.

Kasus harian telah meningkat dari kurang dari 150 pada Juni menjadi lebih dari 1.500 sepanjang Agustus. Negeri Matador mencatat 1.690 kasus baru dalam hitungan harian terbaru pada Rabu (12/8/2020), menjadikan total kasus hampir 330.000.

Larangan merokok Galicia diumumkan setelah para ahli merekomendasikan langkah tersebut kepada pemerintah daerah. Bulan lalu penelitian kementerian kesehatan menguraikan hubungan antara merokok dan peningkatan penyebaran virus korona. Dikatakan bahwa risiko penyebaran meningkat karena orang-orang memproyeksikan droplet dan berpotensi menyebarkan virus COVID-19 ketika mereka menghembuskan asap rokok.

Skynews
Ilustrasi larangan merokok.

Penelitian itu juga mengatakan perokok berisiko terinfeksi dengan cara lain, seperti dengan menyentuh rokok mereka sebelum membawanya ke mulut dan dengan memegang masker wajah saat mengeluarkan dan mematikannya. Penelitian juga menunjukkan dampak negatif merokok yang lebih luas bagi kesehatan.

“Telah terbukti bahwa penggunaan tembakau dalam bentuk apa pun bisa memperburuk perjalanan penyakit pernapasan. Bukti saat ini menunjukkan bahwa merokok dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan bentuk gejala yang parah, ” kata Presiden Regional Galicia, Alberto Nunez Feijoo.

“Merokok tanpa social distancing dengan orang-orang yang dekat menimbulkan risiko penyebaran infeksi yang tinggi. Kami tahu bahwa ini adalah tindakan yang tidak populer bagi perokok. Tapi saya yakin kami berada dalam situasi yang luar biasa,” tambah Alberto Fernandez Villar, anggota komite klinis pemerintah.

Sekadar informasi, larangan tembakau sebelumnya telah diberlakukan di negara lain, seperti di Afrika Selatan yang melarang penjualan tembakau pada akhir Maret. Langkah ini mengikuti saran dari para ahli medisnya dan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Di Inggris sebuah survei menunjukkan bahwa lebih dari satu juta orang telah berhenti merokok sejak pandemi COVID-19 melanda. Saran pemerintah Inggris mengatakan perokok mungkin berisiko mengalami gejala COVID-19 yang lebih parah.

Dokter mengatakan perokok lebih mungkin terkena infeksi saluran pernapasan dan lebih mungkin mengembangkan komplikasi seperti pneumonia pada tahap selanjutnya.

(Via BBC)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *