Gempuran Rokok Ilegal dan Vape Paksa Perusahaan Rokok Malaysia PHK 40 Persen Karyawannya

By Vapemagz | News | Rabu, 18 September 2019

Perusahaan tembakau terbesar kedua di Malaysia, JT International Bhd (JTI Malaysia), kemungkinan akan mengurangi 40 persen jumlah pekerjanya. Perusahaan juga dikabarkan akan menutup dan memindahkan operasi layanan bersama (shared services operations) ke negara lain dalam waktu dekat.

“Kami telah memasuki proses konsultasi tentang masalah ini. Karena proses ini sedang berlangsung, kami belum dalam posisi untuk mengomentari atau mengkonfirmasi apa kemungkinan perubahan di sini, tetapi akan memberikan kejelasan lebih lanjut pada waktunya,” kata Direktur Pelaksana JTI Malaysia, Cormac O’Rourke setelah meninjau operasi bisnis, struktur, dan proses perusahaan.

Wacana memangkas 40 persen dari tenaga kerja perusahaan ini berarti merumahkan sekitar 170 karyawan. Menurut laporan, staf JTI Malaysia telah diberitahu tentang program rasionalisasi itu pada 30 Agustus.

Keputusan ini diambil setelah perusahaan menghadapi tantangan berat dalam lingkungan operasi di Malaysia selama beberapa tahun terakhir. Hal ini tak terlepas dari meningkatnya jumlah produk tembakau ilegal, yang sekarang menjangkau 60 persen. Keputusan perusahaan juga dipengaruhi oleh maraknya industri vape belum diregulasi oleh Negeri Jiran.

“Kondisi pasar di sini belum membaik dan profitabilitas untuk industri secara keseluruhan telah berkurang setengahnya sejak 2015 sejak tarif cukai naik tajam. Pengecer mendapatkan margin dari industri tetapi industri tidak dapat mendukung situasi yang kacau,” kata seorang sumber perusahaan.

Royce Tan/The Star
Direktur Pelaksana JTI Malaysia, Cormac O’Rourke.

Dalam sebuah briefing awal bulan lalu, JTI Malaysia mengungkapkan bahwa rokok dan produk vaping ilegal telah menggelembung hingga 70 persen dari total konsumsi di Malaysia. Ini telah membuat pemerintah Malaysia kehilangan pendapatan pajak hingga RM 6 miliar.

Saat ini diprediksi penjualan rokok legal di Malaysia yang sebelumnya mencapai 20 miliar batang per tahun, tinggal tersisa di bawah tujuh miliar batang per tahun. Sebagai hasil dari tantangan ini, transformasi operasi di Malaysia diperlukan untuk memastikan keberlanjutan bisnis secara keseluruhan.

JTI Malaysia, yang mengusung merek Mevius, Winston dan LD, diperkirakan saat ini memiliki pangsa pasar 25% di negara itu. Pada 25 Juni 2014 lalu, saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek setempat telah dihapus (delisting) dari Pasar Utama Bursa Malaysia. Hal ini menyebabkan British American Tobacco Bhd (BAT Malaysia) menjadi satu-satunya perusahaan tembakau yang sahamnya melantai di Malaysia.

Secara global, industri rokok di dunia memang tengah mengalami distrupsi. Adanya ancaman dari rokok elektrik yang dipersepsikan sebagai alternatif lebih aman, semakin menekan angka konsumsi rokok di negara-negara maju. Sebelumnya, British American Tobacco (BAT) juga berencana melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) 2.300 karyawan secara global pada Januari 2020.

(Via The Star)

Comments

Comments are closed.