Emiten Rokok Di Indonesia Alami Penurunan Laba Bersih

News | Rabu, 11 Mei 2022

Merek-merek rokok Indonesia (sumber foto : www.google.com)

Vapemagz – Emiten rokok mayoritas mencatat penurunan laba bersih pada tiga bulan pertama tahun ini. Penurunan terbesar dialami oleh PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang sebesar 38,5% menjadi Rp 1,07 triliun. Disusul PT HM Sampoerna TbK (HMSP) sebesar 25,96% menjadi Rp 1,91 triliun.

Sementara, emiten rokok tier 2 dan 3 cenderung berhasil menjaga bottom line. PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mencatat penurunan laba bersih 2,3% menjadi Rp 37,68 miliar. Selanjutnya, PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) justru berhasil meningkatkan laba bersih hingga 95,36% menjadi Rp 3,79 miliar.

Analis Pilarmas Investindo, Desy Israhyanti menilai, meskipun laba bersih turun, tetapi tren penjualan rokok masih cukup baik. Sehingga, hal tersebut menunjukkan bahwa permintaan emiten rokok masih tetap ada meskipun terbatas.

“Kalau dilihat memang pemberatnya dari segi cost,” ujar Desy, seperti dikutip dari Kontan.co.id, Senin (9/5/2022).

Desy menilai dengan penurunan performa keuangan yang diikuti harga sahamnya, diperkirakan investor cenderung akan melihat sejauh mana emiten rokok dapat memperbaiki kinerja.

“Sebagaimana rokok yang juga layaknya kebutuhan dan masih menjadi penyumbang utama terhadap penerimaan negara,” kata dia.

Adapun beberapa sentimen yang mempengaruhi kinerja dan fundamental emiten rokok seperti, kenaikan cukai rokok menjadi 12% yang menaikkan ongkos operasi. Lalu, adanya gudang rokok ilegal yang terbongkar imbas perubahan tingkat cukai rokok.

“Namun, apabila cukai rokok terus dinaikkan tiap tahunnya, berpotensi menghambat pertumbuhan emiten rokok,” sambung imbuh Desy.

Desy menyarankan investor bisa memperhatikan saham GGRM dan HMSP. Senada, Andhika juga merekomendasikan buy on weakness GGRM dengan support Rp 29.925 dan target penguatan Rp 32.000 per saham juga buy on weakness HMSP dengan support Rp 885 dan dengan target penguatan Rp 1.000 per saham.

Sementara, Equity Analyst Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora menambahkan, kinerja emiten rokok tertekan karena kenaikan cukai rokok sebesar 12% pada tahun ini. Hal tersebut menekan kinerja emiten khususnya yang memiliki market cap besar.

“Konsumen rokok pindah ke produk tier 2 dan 3 yang harganya lebih murah,” ujar Andhika.

Beriringan dengan penurunan laba bersih, harga saham emiten rokok juga masih terus mengalami penurunan. Senin (9/5), harga saham GGRM turun 1,3%, HMSP turun 4,64%, WIIM turun 6,79%, dan ITIC turun 2,14%.

Namun, Andhika melihat secara teknikal saham-saham rokok berpotensi naik. Dia memaparkan HMSP, indikator MACD sudah goldencross dan sudah masuk ke area positif (di atas nol). Hal ini menandakan pergerakan berpotensi uptrend.

Selanjutnya, GGRM yang saat ini masih dalam downtrend. Hanya saja, dilihat dari indikator bollinger bands sudah mendekati area lower bands yang menandakan penurunan harga relatif sudah terbatas.

Lalu, WIIM dilihat dari indikator MACD sudah berada di area positif menandakan saham ini sedang uptrend. Kemudian, ITIC dilihat dari indikator bollinger bands, sudah berada di lower bands yang menandakan penurunan harga relatif sudah terbatas dan berpotensi rebound untuk jangka pendek.

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *