Bea Cukai: Industri Vape Makin Patuh, Target Cukai Vape Bisa Rp 2 Triliun

News | Selasa, 26 Maret 2019

Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan memuji industri vape di Indonesia yang dinilai sudah patuh aturan. Padahal, aturan pemberlakuan cukai untuk likuid vape yang termasuk dalam kategori hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL) belum genap diberlakukan selama setahun.

“Dari survei yang dilakukan Ditjen Bea Cukai sekitar bulan Desember seperti di Bandung, Denpasar dan Surabaya sebagian besar sudah patuh. Industri ini yang harus disesuaikan sangat banyak, dan dalam tahap awal sudah banyak yang patuh,” ungkap Kepala Seksi Tarif Cukai dan Harga Dasar 2 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI, Agus Wibowo Setiawan.

Kebijakan pemungutan cukai untuk likuid rokok elektrik ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor PMK-146/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Likuid dikategorikan sebagai hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL), sama seperti tobacco molasses, snuffing tobacco, dan chewing tobacco. Tarif cukainya sebesar 57 persen dan berlaku mulai 1 Juli 2018, meski sempat direlaksasi hingga 1 Oktober 2018.

Agus berharap adanya regulasi khusus terkait likuid rokok elektrik dapat menjadi bukti bahwa pemerintah mendukung industri ini. Penetapan cukai juga sebagai bentuk legalisasi produk yang turut memberikan keamanan untuk para pengguna. Selain itu, pendapatan cukai dari sektor ini juga berguna untuk menambah pundi-pundi kas negara.

“Kontribusi cukai dari likuid sebesar Rp 105 miliar, tapi itu hanya untuk September sampai Desember 2018. Jadi itu untuk penerimaan cukai vape selama 4 bulan di tahun 2018,” ujarnya.

Wilfridus S/Merdeka.com
Kepala Seksi Tarif Cukai dan Harga Dasar 2 Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan RI, Agus Wibowo Setiawan.

Tahun ini sendiri, Bea Cukai menilai target penerimaan cukai dari sektor ini bisa menembus Rp 2 Triliun. Selain karena semakin patuhnya para pelaku industri, beberapa produsen juga mengaku siap berinvestasi jutaan dolar untuk memajukan industri. Salah satunya PT NCIG Indonesia Mandiri yang berencana untuk membangun pabrik senilai USD 10 juta di kawasan Bandung, Jawa Barat.

“Sebenarnya bukan target kami mengharapkan dapat memberikan kontribusi sampai Rp 2 triliun. Dapat bekal itu saja, diharapkan bisa mencapai Rp 2 triliun,” tandas Agus. Sebagai gambaran, realisasi penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) untuk semua kategori produk tembakau pada tahun 2018 mencapai Rp 153 triliun. Porsi terbesar masih berasal dari cukai produk rokok konvensional seperti kretek.

Sekadar informasi, berdasarkan kesepakatan pemerintah dengan pengusaha yang tergabung dalam asosiasi vape, ditetapkan delapan harga likuid rokok elektrik yang berlaku di seluruh Indonesia. Dari harga terendah Rp 10 ribu sampai Rp 120 ribu paling mahal. Selain itu, ada dua kategori, yakni cairan vape berkualitas premium (A) dan non-premium (B) serta ada empat ukuran.

Untuk kualitas premium, ukuran 15 ml dibanderol Rp 18 ribu, sebesar Rp 35 ribu per 30 ml, ukuran 60 ml seharga Rp 70 ribu, dan Rp 120 ribu per 100 ml. Sementara kualitas non-premium, untuk ukuran 15 ml harganya Rp 10 ribu, ukuran 30 ml sebesar Rp 20 ribu, sebesar Rp 40 ribu per 60 ml, dan Rp 80 ribu untuk ukuran 100 ml.

(Via Liputan6.com)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *