APVI: Kuartal Pertama 2020 Jadi Periode yang Berat untuk Industri Rokok Elektrik

By Vapemagz | News | Senin, 6 April 2020

Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI) mencatat kuartal pertama atau tiga bulan pertama di tahun 2020 menjadi periode yang berat bagi pelaku industri rokok elektrik. Pasalnya penjualan rokok elektrik di periode ini anjlok hingga lebih dari 50 persen dibandingkan periode sama tahun lalu seiring mewabahnya virus korona (coronavirus atau COVID-19) di Indonesia.

Ketua APVI Aryo Andrianto mengatakan sebenarnya penjualan rokok elektrik di Januari dan Februari sempat mencatat tren yang positif didorong oleh distribusi penjualan rokok elektrik yang lebih baik dibanding kuartal I 2019. Sayang tren ini melesu pada pertengahan bulan Maret 2020 lalu seiring semakin parahnya penyebaran wabah korona di Indonesia.

‚ÄúProduk rokok elektrik (vape) sudah mulai ada di convenient store itu sejak pertengahan tahun 2019. Sayangnya seiring dengan adanya penutupan sejumlah vape store secara sukarela setelah adanya wabah korona ini, penjualan rokok elektrik di bulan Maret 2020 anjlok hingga sekitar 80 persen. Dengan demikian penjualan rokok elektrik selama tiga bulan penuh di awal tahun 2020 diperkirakan merosot hingga lebih dari 50 persen,” kata Aryo.

VapeMagz Indonesia
Ketua APVi, Aryo Andrianto.

Menurut catatan Aryo hingga kini sudah sekitar lebih dari setengah toko-toko vape store milik anggota APVI ditutup seiring mewabahnya korona di Indonesia. Hal ini terjadi terutama di daerah-daerah yang sudah mendapat imbauan pengurangan aktivitas luar rumah dari pemerintah daerah setempat seperti misalnya Jakarta, Bogor dan Bali.

Sekadar informasi saat ini anggota APVI memiliki lebih dari 1.000 anggota. Keseribu anggota ini terdiri dari produsen, peritel, distributor, importir, dan lain-lain. Sejumlah upaya antisipasi sebenarnya sudah dilakukan oleh anggota asosiasi untuk meminimalisir gangguan bisnis yang diakibatkan korona. Salah satu upaya mitigasi yang dilakukan di antaranya dengan menggenjot penjualan via online.

“Penjualan online sebenarnya mengalami tren kenaikan karena ditutupnya beberapa vape store. Tapi pembelian vape di industri ini memang lebih banyaknya dilakukan secara offline. Pembeli lebih suka datang ke toko agar bisa memilih dan mencicipi produk,” kata Aryo.

Comments

Comments are closed.