Ahli Kesehatan Inggris Klaim Vaping Aman, Setelah Ada Kematian Di AS

News | Rabu, 11 September 2019

As tengah dilanda duka lantaran saat ini sudah masuk 450 kasus gangguan pernafasan terkait vaping. Angka ini jelas sangat tinggi, menggingat bulan lalu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) hanya mendapatkan angka 200 kasus.

Beberapa pasien yang mengalami gangguan pernafasan mengaku mengalami gejala seperti batuk, sesak napas, muntah, diare dan kelelahan. Meski Inggris belum terkena wabah ini, namun jelas menimbulkan kekhawatiran juga diantara vapers yang mungkin berpotensi terkena dampak.

Bila melihat perbedaan antara AS dan Inggris, sebagian besar kasus yang terjadi di AS karena kurangnya pihak pejabat kesehatan dalam mengawasi peredaran dan penggunaan. Terbukti di beberapa kasus yang berhasil terungkap bahwa orang-orang ini menggunakan likuid vaping ganja ilegal yang mereka beli di pasar gelap atau membuatnya sendiri.

The Life and Health Experts
Para ahli kesehatan Inggris berusaha meyakinkan para vapers Inggris bahwa vaping aman dan bukan penyebab utama dibalik wabah ini.

“Tidak seperti AS, semua produk rokok elektrik di Inggris diatur secara ketat untuk kualitas dan keamanan oleh Badan Pengawas Obat-obatan dan Produk Kesehatan, mereka mengoperasikan skema kartu kuning, mendorong vapers untuk melaporkan pengalaman buruk,” kata Martin Dockrell, kepala Pengendalian Tembakau di Public Health England.

“Sejauh ini, belum ada masalah serius terkait vaping. Di Inggris kamu bisa mengakses Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA) atau Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan, apakah produk yang kamu gunakan sudah mendapatkan izin dan dapat dijual secara legal.” kata Deborah Arnott, kepala eksekutif Action on Smoking and Health.

“Tampaknya sangat tidak mungkin bahwa produk vaping yang mengandung nikotin tersedia secara luas, terutama beberapa jenis yang dibatasi di Eropa, yang menyebabkan kasus ini. Semua bukti sampai saat ini menunjukkan bahwa produk vaping ganja ilegal (minyak THC) adalah penyebabnya,” kata Prof Linda Bauld, pakar kesehatan masyarakat di Universitas Edinburgh.

(Via The Guardian)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *