WHO: Lebih dari 40 Persen Perokok di Dunia Meninggal karena Penyakit Paru-Paru

By Vapemagz | Lifestyle | Rabu, 5 Juni 2019

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan para perokok untuk segera berhenti dari kebiasan yang berpotensi mematikan tersebut. Pasalnya, lebih dari 40 persen perokok di dunia meninggal karena penyakit paru-paru, seperti kanker, penyakit pernapasan kronis, dan TBC. Sesuai pada tema Hari Tanpa Tembakau Sedunia, 31 Mei lalu, yakni “Jangan biarkan tembakau merenggut napas kita”.

Setiap tahun penggunaan tembakau membunuh setidaknya delapan juta orang. Organisasi dibawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu melaporkan 3,3 juta pengguna akan meninggal karena penyakit yang terkait paru-paru. Jumlah ini termasuk orang yang terpapar asap rokok orang lain, di antaranya lebih dari 60.000 anak di bawah usia lima tahun yang meninggal akibat infeksi saluran bawah pernapasan karena merokok pasif.

“Kita juga akan menyaksikan jika orang yang merokok, hampir 20 persen di dunia yang merokok, jika mereka berhenti sebagian keuntungannya sebenarnya bisa diperoleh sangat cepat, khususnya untuk paru-paru. Dalam dua minggu, fungsi paru-paru akan mulai normal,” Vinayak Prasad, pejabat sementara direktur Departemen Pencegahan Penyakit Tidak Menular WHO.

Adapun kerugian ekonomi global akibat penggunaan tembakau adalah 1,4 triliun dollar AS. Ini disebabkan oleh biaya kesehatan, hilangnya produktivitas akibat penyakit itu dan biaya lain yang disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan merokok. Prasad menilai banyak nyawa dan uang bisa diselamatkan jika orang berhenti merokok.

Pikiran Rakyat
Rokok menjadi faktor utama pemicu penyakit tidak menular seperti jantung, stroke, diabetes, dan penyakit katastropik lainnya.

Menurut data WHO, secara secara global kecenderungan merokok sudah turun dari 27 persen pada tahun 2000 menjadi 20 persen pada tahun 2016. Meski demikian, jumlah pengguna tembakau di seluruh dunia tetap stabil pada 1,1 miliar karena pertumbuhan populasi.

“Di beberapa negara berpendapatan rendah dan menengah, angka kecenderungan merokok justru mengalami peningkatan. Ke negara-negara inilah industri tembakau saat ini beralih. Mereka mengetahui, tembakau tidak disukai di Eropa dan Amerika utara sehingga mereka beralih ke negara-negara berpendapatan rendah dan menengah menyasar utamanya perempuan dan anak-anak di sana,” kata Kerstin Schotte petugas teknis Departemen untuk Pencegahan Penyakit Tidak Menular WHO.

WHO merekomendasikan sejumlah langkah efektif dan murah yang bisa dilakukan untuk mengurangi konsumsi tembakau. Langkah Ini termasuk menciptakan lingkungan bebas rokok, memberlakukan larangan terhadap semua bentuk iklan tembakau, promosi dan sponsor. WHO juga menyarankan untuk mengenakan pajak tinggi atas penjualan rokok dan produk tembakau lainnya agar tidak terjangkau bagi banyak orang, terutama anak muda.

(Via Voice of America)

Comments

Comments are closed.