Perokok Rentan Terpapar COVID-19, Praktisi Kesehatan Anjurkan Beralih ke Produk Tembakau Alternatif

Lifestyle | Selasa, 7 April 2020

Praktisi kesehatan dan dosen Warwick Medical School, Dr James Gill menyatakan merokok adalah faktor risiko yang signifikan terkait risiko terinfeksi virus korona (coronavirus atau COVID-19). Karena itu James mengimbau agar perokok segera berhenti merokok atau setidaknya mengganti rokok dengan rokok elektrik karena memiliki kandungan zat kimia yang lebih rendah.

“Ada banyak faktor yang saling terkait mengapa merokok mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Dari kemampuan untuk mendapatkan oksigen dari darah ke jaringan, hingga peningkatan kadar karbon monoksida dalam darah,” kata James Gill dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (6/4/2020).

Salah satu alasan terbesar yang memungkinkan risiko infeksi pernapasan pada perokok terus meningkat adalah kerusakan dan kematian yang terjadi pada silia atau bulu-bulu halus di saluran udara dan paru-paru. Silia bertugas melapisi saluran udara sehingga memiliki peran yang sangat vital dalam membersihkan lendir dan kotoran.

Dengan demikian Silia berperan dalam mencegah virus dan bakteri masuk ke paru-paru dengan menyaring partikel-partikel yang dihirup. James menjelaskan bahan kimia yang terkandung dalam rokok memiliki dua efek serius pada silia ketika dihirup.

AFP
Perokok disarankan beralih ke produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik.

Pertama adalah mengurangi gerakan silia yang berarti akan lebih sulit untuk memindahkan lendir dan kotoran agar bisa keluar dari paru-paru. Seiring waktu asap yang dihirup dari rokok lama-kelamaan juga dapat membunuh silia hingga akhirnya meningkatkan risiko infeksi virus secara drastis.

“Bahkan ketika berhenti merokok hanya dalam waktu 24 jam dapat dilihat peningkatan besar pada fungsi silia. Semakin lama Anda berhenti merokok maka semakin besar pemulihannya,” katanya.

Jika tidak bisa berhenti maka James menyarankan perokok untuk mengganti rokok dengan produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik. Meski ada kemungkinan gas panas yang terlibat dalam penguapan juga berdampak pada silia dan fungsi paru-paru secara keseluruhan namun risikonya jauh lebih rendah bagi sistem pernapasan tubuh dibandingkan dengan merokok.

Pendapat serupa juga disampaikan ahli dari University of East Anglia sekaligus Chief Investigator The NeSCi Study, Dr Caitlin Notley. ‚ÄúProduk tembakau alternatif adalah pilihan konsumen yang paling populer untuk membantu berhenti merokok,” katanya.

Sejauh ini Caitlin menyatakan belum ada bukti yang menunjukkan bahwa menggunakan produk tembakau alternatif akan meningkatkan risiko terjangkit (infection rate) atau memperparah kondisi pasien COVID-19. Meski tidak menutup kemungkinan terdapat beberapa kondisi terlihat pada kelompok yang rentan.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *