Penelitian Menganalisis Persepsi Resiko Snus Di Norwegia

By Bayu Nugroho | Lifestyle | Kamis, 4 April 2019

Penelitian yang berjudul, “Relative Risk Perceptions between Snus and Cigarettes in a Snus-Prevalent Society – An Observational Study over a 16 Year Period“, dilakukan selama periode 16 tahun mulai tahun 2003-2018. Penelitian ini mengambil data sampel dari 13.381 responden berusia 16-79 tahun menjawab pertanyaan tentang persepsi risiko dari survei nasional Norwegia tentang perilaku tembakau.

Para peserta diminta untuk menilai seberapa berbahaya delapan produk tembakau, di antaranya rokok dan snus. Pertama-tama peneliti mencoba mengumpulkan berbagai tanggapan produk secara independen lalu kemudian membandingkan jawabannya.

Para penulis menemukan bahwa rokok secara akurat dinilai sebagai yang terburuk, pada respon rata-rata 90,2 persen, sementara snus di angka 79,3. Lalu alat alternatif tembakau lainnya berada 58,3 persen. Fakta yang menarik adalah bahwa skor rata-rata pada skala tetap sangat dekat dengan yang sama sejak tahun 2003. Namun faktor yang paling aneh adalah fakta bahwa snus rata-rata sangat tinggi ketika penggunaannya begitu luas.

Unsplash
Sebagian besar penelitian tentang risiko kesehatan seperti produk smokeless tobacco products (SLT) telah dilakukan di AS, di mana penggunaan produk tersebut kurang tersebar luas. Untuk itu peneliti berusaha mencari tahu berbagai produk SLT termasuk snus dan keefektifannya.

Snus adalah produk tembakau yang ditempatkan di bawah bibir atas untuk waktu yang lama. Produk ini populer di Swedia, Denmark dan Norwegia, karena produk ini legal dan dianggap sebagai produk pengurangan dampak buruk yang efektif. Faktanya, snus tidak hanya menyebabkan Swedia membanggakan tingkat merokok terendah di Eropa, tetapi yang lebih penting, juga melaporkan tingkat kanker paru-paru terendah di seluruh benua.

(Via MDPI)

Comments

Comments are closed.