Menteri Kesehatan: “Jika Mudanya Merokok, Tuanya Sakit-sakitan”

By Vapemagz | Lifestyle | Kamis, 21 Maret 2019

Permasalahan kesehatan mengancam generasi milenial seiring tak kunjung berhentinya tren kebiasaan merokok oleh kaum muda. Merokok baik itu tembakau konvensional ataupun rokok elektrik kini sudah menjadi gaya hidup, meski efek jangka panjangnya bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Menteri Kesehatan RI Prof Dr dr Nila Faried Moeloek, SpM(K) mengatakan, terkadang masa muda seseorang sehat dan gembira, tapi mereka melupakan masa tua mereka.

“Kita lihat anak muda perokok, khawatir perokok ini jumlahnya meningkat. Dari usia anak-anak sampai tua pasti merokok terus karena adiksi. Lihat, berapa kerugiannya karena penyakit yang mengintai,” kata Nila dalam acara Youth Town Hall Asia Tenggara dan Nasional di Balai Kartini, Rabu (20/3/2019).

Menurut studi yang dilakukan Sekolah Kajian Stratejik dan Global Pusat Kajian Jaminan Nasional Universitas Indonesia, sebanyak 33,03 persen pemuda usia 18-24 tahun tergolong sebagai perokok aktif. Pemerintah berharap kalangan generasi muda harus tetap produktif sampai usia tua.

Untuk itu, gaya hidup para generasi milenial perlu dirubah. Data Litbangkes menunjukkan, usia manusia rata-rata kini 71,4 tahun, tapi penyakit katastropik sekarang semakin meningkat, salah satunya karena merokok.

Kementerian Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI bersama WHO menggelar Youth Town Hall, Rabu 20 Maret 2019.

“Manusia sehatnya 62 tahun, sekitar 8-9 tahun akhir itu sakit-sakitan. Coba hitung, selama 9 tahun itu penyakitnya akibat rokok, seperti paru. Kemudian dapat sakit jantung, kalau dinilai bayangkan ongkosnya berapa besar,” kata Nila.

“Kita harus ubah mindset anak muda dengan asupan dan pengalaman yang mereka dapat dimulai dari kesehatan. Kita sudah buat Germas yang melibatkan kementerian lainnya,” tambahnya.

Direktur Regional Badan Kesehatan Dunia (WHO-SEARO), Poonam Khetrapal Singh menjelaskan, generasi muda yang merokok seharusnya sadar diri, kalau produk tembakau itu bisa mengganggu kesehatan dan ganggu mentalnya karena adiksi. WHO mencatat secara global perokok usia muda merokok mulai usia 8-9 tahun.

“Mereka harus memahami implikasi dari merokok dan rokok elektronik, mereka tidak sadar dan mengira itu masih sehat. Padahal di masa depan kebiasaan ini bisa membahayakan jiwanya. Kita juga harus fokus pada kegiatan yang positif agar mereka berhenti merokok, sehingga bisa keluar dari kebiasaan buruk itu,” ujar Poonam.

(Via Tempo, Viva)

Comments

Comments are closed.