Filter Rokok Lebih Merusak Lingkungan Ketimbang Kantong Plastik dan Sedotan

By Vapemagz | Lifestyle | Selasa, 29 Januari 2019

Kampanye pengurangan penggunaan plastik mulai digaungkan akhir-akhir ini. Salah satunya dengan mengganti sedotan plastik dengan sedotan stainless, menghilangkan penggunaan sedotan plastik di rumah makan, dan mengurangi penggunaan kantong plastik.

Sedotan dan kantong plastik memang dianggap sebagai polutan terbesar yang merusak lingkungan. Meski demikian, ternyata kedua benda itu sebenarnya bukan polutan plastik terbesar. Menurut penelitian dari University of California San Francisco, filter atau penyaring di dalam puntung rokok menjadi benda yang paling banyak mengotori dunia.

“Banyak perokok berasumsi filter rokok terbuat dari bahan yang bisa terbiodegradasi yang bisa diolah. Sebenarnya filter rokok terbuat dari selulosa asetat, sejenis plastik yang memerlukan sekitar satu dekade untuk bisa terurai,” jelas Elizabeth Smith seperti dilansir CNN.

Menurut penelitian, sekitar 6 triliun rokok diproduksi setiap tahun dan lebih dari 90 persen filternya mengandung plastik. Hal ini berarti lebih dari 1 juta ton plastik setiap tahun yang diproduksi dari rokok. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization atau WHO) mengatakan, sekitar dua pertiga puntung rokok ditemukan berserakan di trotoar atau selokan yang kemudian membawanya ke lautan.

Hal ini nampak ketika petugas Ocean Conservancy yang berbasis di Washington DC mengumpulkan puntung rokok di sekitar pantai sejak 1986. Hingga saat ini, relawannya telah mengumpulkan lebih dari 60 juta puntung rokok. Menurut jenis sampah yang dipungut Ocean Conservancy di tahun 2018, sampah puntung rokok menjadi polutan plastik terbesar, mengalahkan kantong plastik maupun sedotan.

Ocean Conservancy/CNN.com
10 polutan plastik terbanyak yang dibersihkan Ocean Conservancy sepanjang 2018. (ZAL)

Padahal, menurut eksperimen dari Universitas San Diego, sekelompok ikan yang diletakkan di sebuah wadah berisi air dengan puntung rokok, setengah dari ikan akan mati dalam waktu empat hari. Ini menunjukkan air yang tercemar puntung rokok memiliki racun yang dapat membunuh makhluk hidup di dalamnya.

Sekadar informasi, filter plastik dalam rokok pertama kali digunakan pada era 1950-an sebagai respons terhadap ketakutan kanker paru-paru. Asap tembakau saat itu diketahui mengandung 250 bahan kimia berbahaya, termasuk logam berat, arsenik, dan polonium-210 yang sangat radioaktif. Kemudian 69 di antaranya berpotensi menyebabkan kanker.

Filter rokok dianggap dapat memblokir racun dan mencegah kanker paru-paru. Meski demikian, pada medio 1960, para ilmuwan menyadari bahwa tar dan nikotin yang tersaring justru bisa memberi efek ketagihan tersendiri bagi para perokok. Hal ini membuat filter kurang efektif menyaring nikotin.

“Dengan filter rokok, tingkat kanker paru-paru yang paling umum menurun. Namun jenis kanker paru lain seperti adenokarsinoma meningkat. Tingkat kelangsungan hidup kedua jenis kanker ini kira-kira sama,” kata David Wilson, seorang ahli paru dari University of Pittsburgh Medical Center.

Untuk mengatasi masalah sampah plastik dari filter rokok, beberapa kota di seluruh dunia telah menyertakan biaya khusus untuk membersihkan jalan di setiap pembelian rokok. Pada Oktober 2018, Parlemen Eropa mendukung proposal untuk mewajibkan negara Uni Eropa menghapus 50 persen plastik di filter rokok pada 2025, dan 80 persen pada 2030.

Namun, rencana itu ditolak. Sebagai gantinya, perusahaan rokok diminta untuk bertanggung jawab untuk mendanai kampanye peningkatan kesadaran bahaya merokok, penyediaan asbak di tempat umum serta pengumpulan limbah. Perusahaan rokok juga diminta menambahkan label “mengandung plastik yang merusak lingkungan” pada bungkus rokok.

(Via CNN.com)

Comments

Comments are closed.