Di Inggris dan Jepang, Produk Tembakau Alternatif Berhasil Turunkan Angka Perokok

By Vapemagz | Lifestyle | Jumat, 2 Oktober 2020

Mantan Direktur Riset Kebijakan dan Kerja Sama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Profesor Tikki Pangestu mengatakan penggunaan produk tembakau alternatif di Inggris dan Jepang telah mendorong para perokok untuk berhenti.

Sekitar 20 ribu perokok di Inggris berhenti setiap tahunnya, dari 14,4 persen pada 2018 lalu menjadi 14,1 persen atau setara dengan 6,9 juta perokok pada 2019. Sementara berdasarkan hasil survei Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, angka perokok pria turun di bawah 30 persen untuk pertama kalinya menjadi 28,8% pada 2019 lalu. Angka perokok perempuan berkurang 0,7 poin menjadi 8,8% pada 2019.

“Kami telah melihat penurunan dramatis dan historis terhadap penjualan rokok setelah produk tembakau alternatif dikenalkan di berbagai negara. Buktinya adalah Inggris, di mana semakin banyak perokok yang berhenti merokok setiap tahunnya,” kata Tikki saat menjadi pembicara dalam Global Tobacco Nicotine Forum 2020 (GTNF 2020), mengutip siaran pers yang didapat Vapemagz Indonesia.

“Menggunakan produk tembakau alternatif untuk berhenti merokok dua kali lebih mungkin berhasil daripada mereka yang menggunakan produk pengganti nikotin lainnya. Jadi ini adalah kemajuan penting dalam berbasis bukti,” tegas Tikki.

Untuk mendorong negara-negara lain mengikuti jejak Inggris dan Jepang, Tikki mengatakan perlu adanya penelitian berbasis lokal terhadap produk tembakau alternatif.

“Berdasarkan pengalaman saya bertahun-tahun di mana pembuat kebijakan di suatu negara akan selalu menekankan pada bukti informasi yang dihasilkan secara lokal daripada hasil penelitian luar negeri,” ungkapnya.

Thomas Rizal/Vapemagz Indonesia
Mantan Direktur Kebijakan Penelitian dan Kooperasi WHO, Tikki Pangestu.

Senada dengan Tikki, Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), Ariyo Bimmo berpendapat Indonesia perlu mendorong kajian ilmiah. Pasalnya sampai saat ini masih minim riset lokal yang berkaitan dengan produk tembakau alternatif.

“Indonesia belum melakukan riset komprehensif tentang produk inovasi ini, karena itu perlu didorong untuk pemerintah, serta didukung dalam bentuk regulasi yang mengakomodir profil risiko berbeda. Pada akhirnya, diharapkan produk tembakau alternatif bisa membantu tujuan pemerintah menurunkan prevalensi merokok di Indonesia,” kata Bimmo.

Sebagai negara yang terbuka terhadap inovasi dan teknologi, Indonesia semestinya tidak menampik potensi manfaat yang dihadirkan oleh produk tembakau alternatif. Apalagi angka perokok Indonesia sudah mencapai 65 juta jiwa.

“Pemerintah harus segera melakukan riset untuk mendapatkan informasi yang komprehensif tentang produk tembakau alternatif. Langkah selanjutnya, pemerintah dapat mendorong penggunaan produk ini dan membentuk regulasi khusus berdasarkan hasil riset tersebut,” tambah Bimmo.

Vapemagz
Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR), Ariyo Bimmo.

Terkait regulasi, aturan yang mengatur tentang produk tembakau alternatif baru Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 156 tahun 2018. Staf Khusus Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Pengembangan Industri dan Kawasan, I Gusti Putu Suryawan mengatakan pemerintah saat ini tengah memikirkan aturan dasar dalam menopang industri produk tembakau alternatif ini.

“Yang sekarang sedang kami segerakan pertama terkait dengan standar. Kalau tidak ada standar akan susah bergerak dan tidak ada juga leverage untuk insentif,” katanya beberapa waktu lalu.

Putu menambahkan standardisasi produk tembakau alternatif diperlukan untuk menciptakan kepastian usaha bagi industri. Sejauh ini, dirinya sudah secara intensif membahas industri produk tembakau alternatif dengan Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Perekonomian, Bambang Adi Winarso.

“Ini yang sedang kami dorong melalui Kemenperin, produk yang baik dan benar standarnya seperti apa? Ini yang harus ditetapkan,” tandasnya.

(Siaran Pers)

Comments

Comments are closed.